Senin, 19 April 2010

Memahami Yohanes Bab 20:24-29

20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. 20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."

20:26. Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." 20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" 20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."


Memang untuk mempercayai sesuatu yang tidak dilihatnya sendiri bukanlah hal yang mudah. Tomas Didimus yang tidak menyaksikan sendiri walaupun sepuluh saudaranya mengatakan telah bertemu Tuhan Yesus, sulit diyakinkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut juga berlaku sampai sekarang. Kita akan sulit untuk percaya cerita pengalaman seseorang yang merasa disentuh Tuhan. Apakah Tuhan Yesus menampakkan diri atau hanya melalui mimpi, atau bahkan melalui seseorang yang berbicara. Mungkin hanya sekelompok orang yang sama-sama pernah mengalami sentuhan Tuhan saja yang bisa percaya. Padahal sentuhan Tuhan bisa bermacam-macam cara, menurut sekehendak Tuhan sendiri. Yang sering muncul adalah pertanyaan meragukan, masak segampang itu. Penulis sendiri merasa yakin dan percaya bahwa Tuhan yang begitu mengasihi umat-Nya, sebenarnya selalu menyentuh kita dengan berbagai macam cara. Masalahnya, apakah kita bisa merasakan dan peka dengan sentuhan Tuhan tersebut. Sentuhan Tuhan tidaklah harus yang hebat-hebat, namun bisa begitu sederhana dan kelihatan sepele. Gereja mengajarkan kepada kita yang selalu disampaikan oleh para wakilnya :”Tuhan bersamamu, Tuhan sertamu.” Dia begitu dekat malah seringkali masuk ke dalam hati kita, selama kita mau membuka diri kepada-Nya.

Tomas baru percaya setelah melihat sendiri dan akhirnya hanya bisa berucap :”Ya Tuhanku dan Allahku.” Dalam bayangan penulis, Tomas begitu menyesal, mengapa sampai tidak percaya akan ucapan para saudaranya. Dia tidak berani lagi untuk mencucukkan jari ke tangan Tuhan Yesus, apalagi mencucukkan tangan ke lambung-Nya. Yang ada pada sat itu hanya rasa bersalah, menyesal mengapa begitu bodoh dan tegar hati, yang mungkin malahan keluar air mata.

Berbahagialah orang yang tidak melihat dan mengalami, namun percaya. Ucapan ini bisa ditujukan kepada siapa saja, bukan hanya Tomas. Dan siapa saja yang percaya serta melakukan ajaran-Nya, pasti akan membuahkan sesuatu yang mengherankan. Buah-buah itu bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada disekitarnya.

Memahami Yohanes Bab 20:19-23

Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-NYa

20:19. Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. 20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."


Jika Maria Magdalena melihat Tuhan Yesus yang telah bangkit di waktu pagi, maka para murid melihat-Nya di waktu malam hari. Kehadiran Tuhan Yesus sepertinya begitu tiba-tiba tanpa diketahui dari mana datangnya. Kita mungkin bisa membayangkan betapa terkejutnya pada saat itu, yang jangan-jangan malah dikira hantu. Bersyukurlah Tuhan Yesus menyampaikan salam damai sejahtera dan menunjukkan bekas luka-luka yang diderita-Nya. Kekagetan dan ketakutan mendadak sontak berubah menjadi sukacita yang bukan main. Sang Guru telah bangkit dari mati, dengan Tubuh mulia-Nya menampakkan diri.

Pada saat itu Tuhan mulai dengan perintah-Nya kepada para murid. Jika sebelumnya Allah Bapa mengutus Sang Putera, sekaranglah Sang Putera mengutus para murid-Nya. Merekalah para saksi mata pertama yang kita sebut sebagai rasul terpilih, yang harus mewartakan kabar gembira. Mereka “disuwuk” diberkati dengan hembusan agar Roh Kudus beserta mereka.

Mungkin inilah salah satu sakramen yang kita kenal selama ini. Mereka diberi wewenang untuk mengampuni dosa maupun sebaliknya. Mungkin wewenang yang begitu misteri tersebut, hanya berlaku selama Roh Kudus beserta mereka. Jadi tetap saja bahwa yang mengampuni itu Tuhan sendiri melalui karya Roh Kudus-Nya. Wewenang tersebut diwariskan kepada para murid, yang selanjutnya sampai kepada para imam, pastor yang kita kenal selama ini.

Mehami Yohanes Bab 20:11-18

Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena


20:11. Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, 20:12 dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. 20:13 Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." 20:14 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
20:15 Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." 20:16 Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. 20:17 Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." 20:18 Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.


Jika memperhatikan cerita Yohanes Penginjil, sepertinya Maria Magdalena kembali lagi ke kubur dan menangis di sana. Mungkin waktunya berkisar antara pukul empat dan lima, karena masih pagi-pagi benar. Segalanya belum terlihat jelas, karena sinar matahari belum memberikan cahayanya. Perempuan yang selama waktu itu seperti dinomor duakan, namun dalam hal ini seperti mendapat kehormatan. Tuhan Yesus menampakkan Diri-Nya pertama kali malahan kepada Maria Magdalena, bukan kepada murid laki-laki. Mungkin hal ini sebagai peringatan bagi kita semua, bahwa wanita sebenarnya sejajar dengan pria. Jangan merendahkan orang lain, jika tidak ingin direndahkan.

Tuhan Yesus tidak sendirian tetapi didampingi oleh para malaikat-Nya. Dalam keadaan sembab oleh air mata dan pengalaman melihat Tubuh Tuhan Yesus yang hancur, Maria Magdalena tidak segera bisa merasakan bahwa Tuhan Yesus berada di dekatnya. Kalau itu Tuhan Yesus, mestinya dalam keadaan berantakan, karena baru beberapa hari yang lalu dikubur. Sepertinya Tuhan Yesus mengajak bergurau dengan cara bertanya, seperti malaikat yang bertanya sebelumnya. Panggilan dengan menyebut namanya yang mungkin dengan suara khas, yang menyadarkan bahwa yang memanggil seperti itu hanya Tuhan Yesus. Secara spontan karena perasaan yang tidak teruraikan, tidak ada cara lain selain ingin memegang Sang Guru.

Penulis agak bingung mengapa Tuhan Yesus tidak berkenan untuk dipegang Maria Magdalena. Mungkin Yohanes ingin menegaskan bahwa sejak kebangkitan-Nya, Tubuh Tuhan Yesus tidak lagi seperti semula. Tubuh-Nya sudah dipermuliakan, yang tidak sembarang orang boleh menyentuh begitu saja. Sentuhan hanya bisa dilakukan apabila Tuhan Yesus sendiri yang memberi perkenan.

Tuhan Yesus sepertinya menegaskan kembali bahwa Dia akan kembali kepada Allah Bapa, Allah kita semua. Betapa Tuhan Yesus lebih menekankan bahwa Allah yang begitu jauh tak terjangkau, sebenarnya begitu dekat dengan kita. Karena belas kasih-Nya yang tak terhingga kepada kita maka kita semua disebutnya sebagai anak-anak-Nya. Kita diperkenankan untuk menyebut Bapa, sehingga terasa begitu dekat. Bapa yang sangat memaklumi akan kelakuan anak-anak-Nya yang sering nakal dan kebablasan, Yang tetap akan diampuni selama masih mau bertobat dan berubah menjadi lebih baik dan benar.

Memahami Yohanes Bab 20:1-10

Kebangkitan Yesus

20:1. Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. 20:2 Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." 20:3 Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. 20:4 Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. 20:5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. 20:6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, 20:7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. 20:8 Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. 20:9 Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. 20:10 Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah.

Hari pertama minggu itu diperkirakan jatuh pada hari Minggu, karena Sabat atau Sabtu baru saja selesai. Minggu sendiri dihitung sejak sejak Sabtu sore, seperti hitungan hari pasaran orang Jawa. Pengalaman Maria Magdalena menjenguk kubur Tuhan Yesus sepertinya begitu menggetarkan hatinya. Kubur yang terbuka dan jenazah Sang Guru tidak berada di tempatnya. Siapa yang begitu tega mengambil jenazah dan untuk apa malam-malam menyempatkan diri mencuri mayat yang berantakan tak berwujud?

Kelihatannya para murid dan beberapa wanita yang mengikuti Tuhan Yesus selama ini menginap di suatu rumah. Mungkin rumah tersebut adalah yang dipergunakan untuk perjamuan malam, sebelum Tuhan Yesus ditangkap. Kemungkinan rumah tersebut milik Yusuf dari Arimatea atau Nikodemus. Kabar hilangnya jenazah Tuhan Yesus menggerakkan hati Simon Petrus dan Yohanes untuk membuktikan diri.

Mungkin saat itulah mereka baru percaya apa yang dikatakan Tuhan Yesus, yang selama waktu itu menimbulkan tanda tanya. Antara percaya dan ragu-ragu mungkin masih menyelimuti pikiran, karena belum mendapatkan bukti keberadaan Sang Guru. Mungkin Yohanes lebih bisa merasakan ajaran Kitab Suci karena berguru kemana-mana. Nubuat Kitab Suci pasti ditujukan kepada Gurunya, bahwa Dia akan bangkit dari mati. Kematian telah dikalahkan walaupun hal tersebut dialami sendiri oleh Tuhan Yesus. Selama waktu itu yang disaksikan para murid adalah menghidupkan orang yang sudah mati. Hari itulah kematian tidak berlaku bagi Tuhan Yesus, Dia membangkitkan Diri-Nya sendiri!

Sabtu, 17 April 2010

Memahami Yohanes Bab 19:16-27

Yesus disalibkan

19:16. Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. (19-16b) Mereka menerima Yesus. 19:17 Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. 19:18 Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah. 19:19. Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi." 19:20 Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani. 19:21 Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi." 19:22 Jawab Pilatus: "Apa yang kutulis, tetap tertulis."
19:23 Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian--dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. 19:24 Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu.
19:25 Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. 19:26 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" 19:27 Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.


Kelihatannya sebagai penguasa, Pilatus masih memperlihatkan kuasanya kepada para imam kepala. Dia memerintahkan memasang tulisan bahwa Tuhan Yesus yang berasal dari Nazaret raja orang Yahudi. Penulis tidak tahu apakah tulisan tersebut sebagai tanda penghormatan kepada Tuhan Yesus, ataukah sebagai ejekan kepada para imam yang dianggapnya keterlaluan.

Dalam bayangan penulis, di Golgota sudah ada dua orang yang disalibkan lebih dahulu. Kemudian barulah Tuhan Yesus ditelanjangi, dipaku tangan dan kaki-Nya di salib. Salibnya ditancapkan di antara kedua orang yang disalib terdahulu, agak lebih maju ke depan. Seolah-olah Dialah yang menjadi pemimpin para penjahat yang disalibkan. Tuhan Yesus begitu dihinakan, dengan ditelanjangi di kayu salib. Mereka begitu menghina dan merendahkan, namun masih dengan pamrih. Semua pakaian yang ada diambil dan dibagi-bagi di antara mereka.

Kelihatannya pakaian dan jubah Tuhan Yesus begitu istimewa, sampai-sampai pakaian tersebut dibagi berempat. Jubah-Nya yang tanpa jahitan menjadi jubah yang begitu langka, maka perlu diundi siapa yang akan mendapatkannya. Mungkinkah para prajurit begitu menginginkan pakaian yang sudah begitu kotor oleh darah dan debu. Untuk apakah pakaian bekas tersebut? Dipercayai bahwa jubah Tuhan Yesus dijahit oleh Bunda Maria sendiri, sewaktu Dia masih kecil. Jubah itu ikut membesar secara istimewa seiring dengan bertambah dewasanya Tuhan Yesus, sampai ke penyalibannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, entah karena dengki, iri atau jengkel, kita juga sering menelanjangi orang lain. Telanjang bukan karena pakaian, tetapi hanya luapan emosi ingin mempermalukan orang lain. Mungkin pada saat itu ada perasaan puas, lega telah berhasil membuat malu. Kita lupa bagaimana perasaan orang yang kita permalukan tersebut, apa lagi jika di hadapan banyak orang. Jika kita merenung dan hal tersebut terjadi pada diri kita, apa yang akan kita rasakan?

Kemudian Yohanes menuliskan bahwa dia bersama Bunda Maria dan yang lain berdiri di bawah salib. Ketiga Injil yang lain tidak menyebutkan bahwa di dekat salib mereka berkumpul. Mereka hanya menyaksikan dari tempat yang agak jauh, yang bisa dimaklumi karena perasaan tidak tega, kasihan, tidak sampai hati dan bermacam rasa yang lain. Kemungkinan para prajurit tidak memperbolehkan para murid-Nya mendekat. Betapa mereka akan diolok-olok, dihina oleh para pembenci Gurunya. Di hadapan Sang Guru yang tersalib dan dicaci maki yang tidak keruan, sepertinya dihindari. Kemungkinan besar hanya Bunda Maria yang diperbolehkan untuk mendekati Puteranya. Bunda Maria yang begitu mengasihi Sang Putera, pasti tidak akan menghiraukan segala macam cemoohan, penghinaan. Hubungan pribadi antara ibu dan anak akan mengalahkan segala macam hambatan, dan itulah saat-saat terakhir yang harus dimanfaatkan.

Pesan bahwa Bunda Maria sebagai ibu semua murid-Nya adalah pesan yang begitu penting. Semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus berarti menjadi murid-Nya. Dan sebagai murid, mau tidak mau harus mengakui bahwa Bunda Maria adalah ibu kita semua. Kita menjadi anak-anaknya secara rohani yang begitu misteri. Betapa hubungan Tuhan Yesus dengan Bunda Maria begitu dekat. Apa yang dikatakan Bunda Maria selalu diindahkan dan dituruti. Bunda Maria sebagai Bunda Pengantara akan selalu meneruskan semua permohonan yang disampaikan anak-anaknya, kepada Puteranya sampai selama-lamanya. Mungkin inilah yang ingin disampaikan oleh Yohanes kepada kita. Tanpa kehadiran Bunda Maria maka rencana keselamatan tidak akan terwujud.

Salib pada waku itu mungkin digunakan untuk suatu hukuman yang betul-betul merendahkan. Penghinaan sebagai penjahat yang tidak terampunkan yang sudah selayaknya dihukum dengan cara disalibkan. Betapa orang yang disalib dianggap begitu jahatnya, maka perlu diketahui banyak orang dan ditempatkan secara terbuka.

Dalam perjalanan waktu, salib malah menjadi simbul kemenangan, simbul berkat yang dianggap bisa memberikan kekuatan. Tetapi salib bisa juga dimaknai sebagai penderitaan yang harus dijalani sebagai konsekuensi menjadi pengikut Kristus. Orang Katolik pasti sangat mengenal apa itu tanda salib, yang mungkin setiap hari selalu dilakukan.

Salib bisa menjadi simbul bagaimana seseorang mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Dan salib itu sendiri seharusnya selalu melekat di dalam diri kita. Kita diajak untuk memikul salib kita masing-masing sampai ke puncak tujuan. Tidak masalah apabila salib tersebut membuat kita terjatuh dan terengah-engah. Yang penting kita harus bangkit dari kejatuhan tersebut, karena tujuan akhir kita masih di atas sana.

Ada kepercayaan bahwa Adam meninggal dan dikuburkan di tempat Tuhan Yesus tersalib. Tengkorak yang diketemukan di sana dipercaya sebagai kepala Adam. Adam lama yang mewariskan dosa kepada kita diganti dengan Adam baru yang membawa keselamatan atas dosa tinggalan tersebut.

Memahami Yohanes Bab 19:38-42

Yesus dikuburkan

19:38. Sesudah itu Yusuf dari Arimatea--ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi--meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. 19:39 Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. 19:40 Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. 19:41 Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. 19:42 Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.

Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus beserta temannya malahan yang berinisiatif untuk menurunkan mayat Tuhan Yesus. Kemanakah murid-murid yang selama ini begitu dekat dengan Dia? Mungkin pertanyaan ini agak aneh, apabila murid yang dikasihi-Nya juga berada di dekat salib. Sudah semestinya dia ikut bekerja menurunkan mayat dari salib, bersama dengan Yusuf Arimatea dan Nikodemus. Rasanya ada sesuatu yang ganjil untuk dipahami. Mungkinkah ajaran-Nya bahwa Bunda Maria menjadi ibu kita semua terjadi sebelum penangkapan? Atau komunikasi pribadi antara Tuhan Yesus dengan Bunda Maria sebelum wafat-Nya? Kemudian Bunda Maria menyampaikan kepada para murid, seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus?

Segalanya seperti sudah diatur, ada kuburan baru di dekat Golgota dan belum pernah dipakai. Waktu yang tinggal sedikit itu betul-betul dimanfaatkan untuk mengurus jenazah Tuhan Yesus. Hari Sabat orang Yahudi tidak diperbolehkan bekerja, dan Sabat dihitung mulai hari Jumat petang hari. Maka bisa diperkirakan bahwa penguburan tersebut dilakukan dengan tegesa-gesa. Kemungkinan tubuh-Nya dibungkus kain kapan dan kain peluh, tanpa dibersihkan secara selayaknya terlebih dahulu. Nanti saja setelah hari Sabat lewat, barulah jazad-Nya diurus dengan sebaik-baiknya.

Tuhan Yesus dimasukkan ke dalam liang kubur dengan membawa segala macam dosa, kesalahan dan kelemahan kita. Mungkin disinilah sukacita yang harus kita rayakan dengan penuh syukur. Belenggu tali temali dosa kita telah dipatahkan dan diambil dijadikan duri, paku dan tombak. Mungkin kita membayangkan bagaimana Tubuh Tuhan Yesus yang tercabik-cabik bagaikan monster, tidak menyerupai manusia lagi. Dan setiap serpihan daging, darah dan air maupun keringat-Nya adalah kumpulan dosa, kesalahan dan kelemahan kita.

Tuhan Yesus masuk ke dalam perut bumi pertiwi, berkumpul dengan semua orang yang sudah meninggal terlebih dahulu. Selanjutnya penulis tidak bisa membayangkan, bagaimana di dalam kubur. Mungkin saja Dia masuk ke dalam dunia orang mati dan mengajar mereka. Ada yang percaya, ada yang tidak mengenal-Nya dan tidak percaya atau yang ragu-ragu. Mungkin banyak roh yang bersukacita karena memang sudah mengharap kehadiran-Nya. Mungkin mereka begitu merindukan untuk segera diajak naik ke surga mulia, berkumpul bersama dengan para kudus yang sudah berada di sana. Biarlah hal ini menjadi urusan Tuhan Yesus sendiri.

Memahami Yohanes Bab 19:31-37

Lambung Yesus ditikam

19:31. Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib--sebab Sabat itu adalah hari yang besar--maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. 19:32 Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; 19:33 tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, 19:34 tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. 19:35 Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. 19:36 Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: "Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan." 19:37 Dan ada pula nas yang mengatakan: "Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam."

Kelihatannya menjadi tidak baik jika pada hari Sabat masih ada mayat tergantung di kayu salib. Jika yang disalib itu masih hidup maka kakinya dipatahkan agar cepat mati. Orang-orang Yahudi sepertinya menginginkan seseorang yang disalib agar cepat mati jika menjelang hari Sabat. Secara tidak langsung, sebenarnya mereka telah membunuh orang yang belum waktunya mati. Semua itu demi hari Sabat, dan diikuti oleh para prajurit atas perintah Pilatus.

Tuhan Yesus yang telah wafat tidak jadi dipatahkan kaki-Nya, namun mereka masih menyempatkan diri untuk menombak lambung-Nya. Darah dan air keluar dari bekas lambung yang tertikam, yang mestinya menjadi suatu pemandangan yang mengherankan. Jika darah yang tersisa belum membeku, mestinya hanya darah saja yang keluar. Namun kenyataannya masih ada darah dan air yang mengalir dari Tubuh-Nya.

Penulis tidak bisa membayangkan seperti apa air dan darah yang keluar tersebut. Mungkin inilah yang membuat para penikam melihat dengan ternganga, terpesona atas apa yang telah diperbuatnya. Darah dan air adalah simbul kehidupan, dimana orang tidak akan bisa hidup jika di dalam badannya tidak ada cairan dan darah.

Darah dan air-Nya akan mengaliri jiwa-jiwa yang gersang, yang haus ingin meneguk setetes saja sebagai penghapus dahaga. Dialah yang menyediakan kehidupan yang mengairi pada-padang tandus menjadi dataran menghijau nan subur. Siapa yang mau datang kepada-Nya tidak akan haus dan lapar lagi.

Orang sakit sering kali menerima infus cairan tambahan ataupun darah segar, agar tidak kekurangan cairan maupun darah. Penulis hanya bisa membayangkan betapa Tubuh Tuhan Yesus penuh dengan hiasan luka. Kulit yang hancur, bekas mahkota duri, bekas paku dan tombak, bagaikan dibatik dengan segala macam bentuk luka. Kasihan sekali, orang yang tidak pernah berbuat salah namun disiksa sedemikian rupa. Semuanya harus terjadi dan nubuat itu harus dipenuhi, agar penebusan dari kuasa dosa terlaksana.

Tuhan Yesus, kami bersyukur karena Engkau telah menebus dunia. Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami. Amin.