Selasa, 01 Desember 2009

Memahami Markus Bab1

Bab 1 - Yohanes Pembaptis, Yesus mulai berkarya

Yohanes Pembaptis
1:1. Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. 1:2 Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: "Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; 1:3 ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya",
1:4 demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu."
Sebagai pembukaan, Markus kelihatannya mengutip kitab nabi Yesaya, yang berisi nubuat tentang Yohanes Pembaptis. Kita mengenal Yohanes Pembaptis yang berkarya sebagai nabi, yang mendahului sebelum kedatangan Tuhan Yesus sendiri. Dia meratakan dan meluruskan jalan, yang tadinya berkelok-kelok naik turun tidak karuan.

Kita bisa membayangkan bagaimana membuat jalan menjadi lurus dan rata. Gundukan tanah dicangkul, yang berlembah ditimbuni batu dan tanah. Segala macam tanaman yang menghalangi dipotong atau bahkan dicabut, dan akhirnya menjadi lurus dan rata. Untuk berkarya seperti itu diperlukan pengorbanan lahir batin, hanya demi membuat jalan lurus dan rata.

Dalam karyanya, Yohanes Pembaptis mengajak semua orang untuk bertobat. Bertobat berarti berubah dari kelakuan lama, menjadi manusia baru yang lebih baik dan benar. Simbul pertobatan tersebut adalah dengan dibaptis, disiram atau dimandikan dengan air. Air sebagai simbul untuk mencuci diri agar kelihatan menjadi bersih, tidak kotor lagi. Hal ini hampir sama dengan sewaktu kita setiap hari mandi, agar selalu bersih badannya. Baptisan lebih condong untuk bersih dalam rohaninya.

Dalam kehidupan sehari-hari, diri kita yang berkelok-kelok dengan dusta dan penuh bukit nafsu duniawi, juga harus diluruskan dan diratakan. Biarlah Tuhan bisa tersenyum dan berkenan mampir ke dalam hati kita. Alangkah bahagianya Tuhan apabila banyak orang mau bertobat dan bersedia dibaptis, kembali ke jalan rata dan lurus. Berproses untuk menuju perubahan, melaksanakan perbuatan baik dan benar penuh kasih persaudaraan.

Pengalaman penulis sewaktu dibaptis, rasanya begitu bahagia yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Waktu itu penulis masih kelas satu SMP negeri di Semarang, dan belum ada keluarga yang menjadi Katolik. Mungkin hanya kakak penulis yang sudah dipermandikan di Solo. Penulis dengan saudara belajar agama bersama-sama, namun karena penulis pindah ke Semarang maka pelajaran agamanya diperpanjang.

Betapa penulis sedih dan menangis karena belum kenal dengan orang Katolik yang lebih dewasa, untuk menjadi wali baptis. Beruntunglah ada mas Wagiya yang aktif di gereja dan bersedia menjadi wali baptis. Malam harinya mengikuti Misa Kudus dan menerima Tubuh Kristus. Kebetulan perayaan hari kelahiran Tuhan Yesus yang dilaksanakan pada malam hari, yang begitu syahdu dan sunyi. Nyanyian paduan suara seperti pujian malaikat karena tempatnya di balkon atas belakang. Beruntunglah orang tua tidak melarang bahkan setelah penulis berkeluarga, banyak saudara yang menjadi pengikut Kristus.

1:5 Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan. 1:6 Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.
1:7 Inilah yang diberitakannya: "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. 1:8 Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus."
Kita bisa membayangkan apabila kita di sungai dan dibaptis. Kemungkinan besar akan basah kuyup karena dipermandikan di dalam sungai. Betul-betul mandi tanpa copot pakaian. Namun tidak usah kawatir apabila di musim panas, karena sebentar saja pakaian tersebut akan kering sendiri. Dan semuanya yang datang akan mengalami hal yang sama, dipermandikan sampai basah kuyup.

Sebagai nabi, Yohanes Pembaptis pastilah mempunyai karisma yang dapat menyadarkan orang awam, orang yang merasa berdosa, untuk melakukan pengakuan dosa. Mungkin angkatan pada waktu itu sudah lama merindukan kehadiran seorang nabi. Seorang nabi yang betul-betul berbeda dengan orang lain. Nyatanya Yohanes Pembaptis rela tinggal di padang gurun, bertapa, berpuasa dan hanya makan belalang dan madu hutan. Tidak pernah minum anggur yang bisa memabukkan.

Sewaktu penulis ke Israel, oleh pemandu diberitahu bahwa ada sejenis tanaman yang diberi nama pohon belalang. Bijinya seperti wijen yang biasa dipakai untuk membuat onde-onde. Apabila biji pohon belalang tersebut dicampur dengan madu hutan dan dimasak, maka jika didinginkan akan seperti model roti yang tahan lama disimpan. Jika ingin makan, maka cukup dicuwil atau dipotong saja dan sisanya bisa disimpan kembali.

Yohanes Pembaptis berbicara dengan jujur dan apa adanya, tidak mau disebut sebagai nabi ataupun Mesias. Dari mulutnya sendiri dia mengatakan bahwa Mesias akan datang sesudahnya. Mesias yang begitu kudus dan luhur, sehingga untuk membuka tali kasutnyapun dia merasa tidak pantas. Dia mengaku hanya membaptis dengan air sungai Yordan, sedangkan Mesias akan membaptis dengan Roh yang Kudus. Roh Kudus yang bisa membersihkan sampai sebersih-bersihnya, seperti baru lagi. Inilah misteri Roh yang Kudus karena Dia Allah sendiri. Berbeda dengan air yang hanya sekadarnya saja bersih, namun masih meninggalkan noda-noda atau kotoran yang masih membekas.


Yesus dibaptis Yohanes dan Pencobaan
1:9. Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. 1:10 Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. 1:11 Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." 1:12 Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. 1:13 Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.
Setelah bercerita tentang Yohanes Pembaptis sebagai pembuka jalan, barulah Markus bercerita tentang Tuhan Yesus. Kita bisa menduga bahwa Yohanes Pembaptis sudah mengenal Tuhan Yesus sebelumnya, karena mereka masih bersaudara. Jadi kita bisa membayangkan bagaimana mereka berdua ngobrol dahulu sebelum dilakukan ritual pembaptisan. Jangan-jangan pada awalnya Yohanes Pembaptis merasa enggan, sungkan jika harus membaptis Tuhan Yesus. Apakah hal ini tidak terbalik?

Namun skenario besar memang harus terjadi seperti itu. Pokoknya Yohanes Pembaptis harus bersedia membaptis Tuhan Yesus. Biarlah semua orang yang berada di situ menyaksikan, bahwa Dia seperti manusia biasa, yang bersedia melakukan ritual pembaptisan.

Anak Manusia yang tidak mempunyai dosa, siap dan rela melakukan ritual pembaptisan seperti yang lainnya. Dia memberi contoh nyata untuk berani mengalah, merendahkan diri seperti orang biasa. Dia tidak mau menonjolkan diri-Nya, dan biarlah semua itu mengalir seperti air di sungai. Betapa akan geger dan menghebohkan jika tiba-tiba Tuhan Yesus yang membaptis Yohanes Pembaptis. Berarti jalan ceritanya tidak sesuai dengan skenario Tuhan sendiri.

Kita boleh mendramatisir ritual pembaptisan ini. Penulis mencoba membayangkan bagaimana Tuhan Yesus mulai masuk ke dalam sungai Yordan. Dia mulai menyatu dengan air sungai Yordan, yang berarti masuk ke dalam bumi. Membaur dengan segala macam isi bumi ini, dimana semua kotoran terbawa arus air sungai. Dan semuanya itu akan ditampung ke perhentian akhir di laut Garam atau laut Mati.

Begitu Dia keluar dari air sungai Yordan, terjadilah suatu proses perubahan yang begitu misteri secara rohani. Sang Manusia sejati mulai menyembulkan diri yang juga Allah sejati. Mungkin saat inilah yang menjadi babak baru, dari babak Perjanjian lama yang diwakili oleh Yohanes Pembaptis menuju babak Perjanjian Baru.

Dalam pemahaman penulis, pastilah Yohanes Pembaptis bisa melihat suasana pada waktu itu dan mungkin juga orang lain yang kebetulan berada di sana. Penulis sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana langit yang terkoyak. Namun suasana yang berbeda dan datangnya burung merpati putih bersih, paling tidak sudah merupakan keanehan tersendiri. Jika para penginjil bisa menceritakan bagaimana Allah bersuara, mestinya suara tersebut didengar juga oleh paling tidak Yohanes Pembaptis. Anak terkasih dimana Allah Bapa begitu berkenan, sepertinya memberikan pernyataan bahwa Tuhan Yesuslah yang paling sempurna. Dan kita bisa memaklumi karena Dialah yang mahakusa itu sendiri, yang mahasempurna.

Kemudian Markus hanya menceritakan bahwa Tuhan Yesus ke padang gurun selama empat puluh hari dan dicobai Iblis. Dia menyatu dengan alam sekitarnya, bersahabat dengan segala macam binatang yang berkeliaran di sana. Ditekankan bahwa Dia dilayani oleh para malaikat. Hal tersebut sepertinya menggambarkan bahwa pada saat itu Dia seperti di surga, surga yang di dunia. Suasana yang penuh damai dan sejahtera, walaupun ada pencobaan dari Iblis. Kita bayangkan saja bahwa Iblis ini malaikat yang berontak, yang ingin menguasai dunia. Ujian dari Iblis mestinya begitu berat, karena dengan maksud untuk menjatuhkan, mengalahkan dan akhirnya takluk kepada kehendaknya.

Sepertinya kita diajar untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum melaksanakan suatu karya. Kita diajar untuk menerima ujian-ujian atau pencobaan, yang harus dapat diselesaikan dengan baik dan lulus. Dengan pencobaan-pencobaan, maka daya tahan akan semakin kuat yang bisa menjadikan seseorang tahan banting. Pergumulan hidup di dunia bisa begitu bermacam-macam dan setiap orang bisa mengalami hal yang berbeda. Dengan mempersiapkan diri terlebih dahulu, paling tidak sudah mempunyai pengalaman bagaimana mengatasi segala macam rintangan dan hambatan. Bisa tegar untuk tidak gampang jatuh dan menyerah kalah.


Yesus di Galilea
1:14. Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, 1:15 kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"
Dalam pemahaman penulis, sepertinya Tuhan Yesus mulai berkarya nyata di hadapan banyak orang, setelah Yohanes Pembaptis ditangkap. Dia memberitakan Injil Allah, kabar sukacita, kabar keselamatan yang datangnya dari Allah sendiri. Babak Perjanjian Lama yang diwakili oleh nabi Yohanes Pembaptis sudah berakhir dan mulai memasuki babak Perjanjian Baru. Babak awal dimana Tuhan Yesus memulai dengan karya-Nya. Waktunya sudah digenapi dan mulailah proses perubahan yang akan keluar dari kebiasaan yang berlaku selama itu.

Sepertinya Tuhan Yesus lebih senang mengatakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Dia tidak mengatakan bahwa Dialah Sang Mesias yang ditunggu-tunggu, bahwa Dialah Sang Kerajaan Allah. Dia betul-betul berperan sebagai manusia sejati yang menyampaikan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Dia mengajak semua orang untuk berproses melalui perubahan secara rohani. Dari perubahan rohani tersebut, barulah diikuti oleh perubahan yang duniawi. Biarlah yang bertelinga mau mendengar dan merenungkannya masing-masing.

Dia mengajak semua orang untuk mau bertobat, yang berarti berubah secara rohani yang diungkapkan melalui perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan Yesus sendiri memberi contoh nyata dalam kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu kita diharapkan untuk percaya kepada kabar sukacita tersebut. Kabar gembira bahwa sebenarnya Tuhan sudah berada di sekitar kita, dan sedang menantikan kita untuk berubah sesuai dengan ajaran-Nya.

Mungkin dalam benak kita pernah terbersit, mengapa Tuhan Yesus tidak langsung saja memproklamirkan diri-Nya sebagai Mesias, Kristus yang ditunggu-tunggu. Mengapa Dia tidak langsung menjadi pemimpin, menguasai dunia dengan segala macam ke-mahaan-Nya. Pasti situasi dunia akan berbeda pada saat itu, yang akan berdampak sampai sekarang ini. Mungkin jawabannya hanya satu, ya itulah misteri Tuhan yang berkarya sesuai dengan kehendak-Nya. Bukan keinginan kita yang mungkin lebih banyak mempergunakan nalar dan emosi, dengan akal budi kita yang terbatas.


Yesus memanggil murid pertama
1:16 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 1:17 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." 1:18 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 1:19 Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. 1:20 Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.
Kita bisa memperkirakan bahwa sebenarnya Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes sudah mengenal siapa Tuhan Yesus. Mereka pernah bertemu yang mungkin sewaktu Tuhan Yesus melakukan pewartaan di rumah ibadat. Pada awalnya mereka tidak berpikir untuk menjadi pengikut atau murid-Nya. Pekerjaan sebagai nelayan sudah ditekuni, yang menjadi kehidupannya sehari-hari. Mereka memang keturunan nelayan yang tinggal di daerah tepi pantai danau Galilea. Mungkin mereka sudah pernah bahkan sering mendengar khotbat-Nya di sinagoga.

Ajakan atau panggilan untuk menjadi penjala manusia, adalah suatu ajakan yang baru pertama kali didengar. Pastilah ada sesuatu yang mengherankan, mencengangkan, memberi harapan baru dan lain sebagainya. Khotbah-Nya saja sudah memberikan suasana baru yang penuh daya tarik dan kuasa, apalagi kalau sudah menjadi murid-murid-Nya.

Kita bisa membayangkan bagaimana kuasa Tuhan Yesus memberikan daya magnit yang luar biasa. Daya tarik yang sedemikian rupa, sehingga mereka berani melepaskan pekerjaan yang selama ini ditekuni. Berani meninggalkan keluarga, orang tua dan sanak saudaranya demi harapan baru. Harapan yang belum jelas masa depannya pada waktu itu, namun paling tidak nanti siapa tahu bisa menjadi pengkhotbah seperti para ahli Taurat. Apabila Gurunya sampai diangkat oleh rakyat banyak untuk menjadi pemimpin bangsa Israel, sedikit banyak pasti akan kecipratan kedudukan.

Penulis mencoba membayangkan apabila sedang menjala ikan. Sewaktu jala kita tebarkan di sungai atau di laut, harapan yang muncul adalah mendapat tangkapan ikan yang banyak. Kita tidak pernah berpikir bahwa hanya ada satu jenis ikan saja yang akan kita tangkap. Segala macam jenis ikan dipersilahkan masuk ke dalam pukat. Dengan penuh kesabaran, si penjala menunggu beberapa saat dan pada waktunya jala akan diangkat dengan penuh harap. Mungkin segala macam jenis ikan akan terjaring, termasuk sampah, potongan kayu bahkan sandal bekaspun terbawa. Begitu sampai di perahu atau di darat, barulah semuanya dipisah-pisahkan. Yang tidak dibutuhkan dibuang atau dikembalikan ke air. Hanya ikan-ikan tertentu yang mempunyai nilai yang dikumpulkan dan dikelompokkan sesuai jenisnya.

Dalam pemahaman penulis, jala adalah simbul kasih yang penuh dengan kesabaran dan kita tebarkan kemana-mana, dimana kita tinggal. Jala yang tidak pernah membeda-bedakan siapa yang akan terjaring oleh kasih tersebut. Kasih yang memikat orang-orang yang berkehendak baik. Hal tersebut akan berbeda kalau kita memancing dengan memakai umpan. Jenis umpan disesuaikan dengan jenis ikan yang akan kita pancing. Umpan kita pasang karena sebagai daya tarik untuk memikat ikan yang kita harapkan. Malah sering umpan yang dipasang hanya tipuan, bukan umpan makanan beneran. Yang namanya memancing, umumnya mendapatkan ikan ya satu persatu

Zaman sekarangpun kita diharapkan bisa menjadi penjala manusia, walaupun seringkali kita merasa tidak siap dan tidak bisa. Kalau tidak bisa, ya paling tidak menjadi pemancing manusia, daripada sama sekali tidak mau berkarya. Ajaran Tuhan Yesus berlaku selamanya, yang mungkin saja pukatnya dimodifikasi sedemikian rupa, disesuaikan dengan zaman sekarang.


Yesus di Kapernaum
1:21 Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. 1:22 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. 1:23. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: 1:24 "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." 1:25 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" 1:26 Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya. 1:27 Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya." 1:28 Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea.
Jika kita perhatikan, pada awalnya Tuhan Yesus sepertinya setiap hari Sabat masuk ke sinagoga dan mengajar. Pengajaran-Nya sangat berbeda dengan para ahli Taurat. Dia memberikan model baru dalam pengajaran, tidak seperti pada umumnya. Ada suatu kuasa yang tidak terlihat kasat mata, namun dapat dirasakan oleh para pendengarnya.

Kita juga bisa mengerti bahwa roh jahat yang merasuki seseorang nyatanya bisa memasuki rumah ibadat. Roh jahat tersebut tidak takut untuk berkeliaran di tempat-tempat yang kita anggap sakral atau suci. Jadi jangan kaget apabila ada roh jahat yang berkeliaran, padahal Tubuh Kristus sedang terpenjara di tabernakel. Pada kenyataannya masih saja ada pencuri yang memanfaatkan situasi sewaktu misa kudus sedang berjalan.

Roh jahat lebih mengenal dan tahu siapakah sebenarnya Kristus Yesus, Yang Kudus dari Allah sendiri. Mereka sebenanya malah ketakutan apabila bertemu Tuhan Yesus, jangan-jangan hendak dibinasakan dan dilempar ke neraka. Mau tidak mau roh jahat tersebut akan menuruti kehendak Tuhan Yesus, karena memang Dia mahakuasa terhadap apapun. Mestinya hal tersebut mengajarkan kepada kita, untuk tidak perlu takut dengan apapun, selama kita selalu bersama Dia.

Perbuatan ajaib memang selalu menjadi buah bibir dan menjadi bahan perbincangan yang menarik. Kemudian berita tersebut berkembang dari mulut ke mulut dan menyebar kemana-mana. Pastilah banyak orang tertarik, khususnya yang membutuhkan pertolongan akan meluangkan waktu untuk bertemu dengan Dia.

Yesus menyembuhkan mertua Simon Petrus
1:29. Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. 1:30 Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. 1:31 Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. 1:32 Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. 1:33 Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. 1:34 Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.
Selesai dari upacara ibadat di sinagoga, Tuhan Yesus bersama kedua rasul mengunjungi keluarga Simon. Mungkin Tuhan Yesus sudah tahu bahwa ibu mertua Simon sedang sakit demam dan tidak bisa bangun. Dengan memegang tangannya, maka daya kuasa mengalir ke dalam tubuh ibu mertua Simon dan sembuhlan ia. Kita bisa membayangkan bagaimana perasaan seorang yang sedang sakit dikunjungi dan disembuhkan. Ucapan syukur dan terima kasih ditumpahkan dengan segala cara, dengan penuh sukacita. Pastilah ibu mertua Simon melayani Tuhan Yesus dengan penuh kegembiraan. Jikalau berkenan, menginap saja di rumahnya dan pasti disediakan kamar untuk sang Tabib.

Kabar kesembuhan orang yang dirasuki roh jahat, begitu cepat menyebar. Maka kesempatan tersebut betul-betul dimanfaatkan oleh semua orang yang mempunyai saudara yang sedang sakit. Mereka tahu dimana Tuhan Yesus berada, maka berbondong-bondonglah orang berdatangan. Tanpa mengenal lelah Tuhan Yesus bersedia menyembuhkan yang sakit maupun yang kerasukan setan. Perasaan berbelas kasih lebih dominan dan diutamakan dari pada untuk beristirahat.

Dengan kuasa-Nya, Tuhan Yesus melarang semua setan untuk berbicara di hadapan-Nya. Dia tidak mau dikenal dan diketahui bahwa Dialah Allah yang mahakuasa. Biarlah segalanya berjalan wajar begitu saja, dan mengalir seperti sungai. Biarlah semua orang melihat dan mendengar dan merenungkan masing-masing, siapakah Dia sebenarnya.

Penulis agak heran bahwa banyak orang di Galilea pada waktu itu yang kerasukan roh jahat. Mungkin kita hanya bisa membayangkan bahwa zaman itu betul-betul zaman edan, dimana roh jahat meraja lela menguasai manusia. Jangan-jangan di Indonesia pada saat inipun sama dengan zaman pada waktu itu. Banyak media mewartakan tentang kerasukan masal di mana-mana. Pada tahun-tahun yang penuh rahmat ini, roh jahat sangat marah dan berupaya mengganggu dengan segala cara.

Yesus mengajar di kota lain
1:35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. 1:36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; 1:37 waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." 1:38 Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang." 1:39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.
Penulis tidak tahu mengapa Tuhan Yesus hampir selalu berdoa sendirian di tempat sunyi.Dia selalu menyempatkan waktu di tempat sunyi untuk berbicara dengan Allah Bapa. Jika tidak pagi-pagi sekali, diluangkan waktu pada malam hari dimana semua orang sedang beristirahat tidur. Secara tidak langsung kita diajar dan diberi contoh oleh Tuhan Yesus sendiri untuk selalu berdoa. Tempat sunyi yang jelas bisa membuat lebih konsentrasi dan khusuk dalam doa. Segala macam gangguan yang masuk melalui panca indera bisa diminimalkan, yang mestinya bisa lebih bebas untuk ngobrol dengan yang kudus.

Kemudian Tuhan Yesus mengajak para murid untuk berkeliling ke kota-kota lain yang masih berdekatan. Sepertinya Tuhan Yesus lebih menekankan untuk memberitakan kabar gembira dan mengajak orang untuk bertobat. Secara rohani pertobatan lebih penting dari pada untuk penyembuhan jasmani. Harapannya, rohani dahulu yang sembuh kemudian baru diikuti jasmani yang sembuh.

Mungkin kita pernah mendengar cerita orang kudus yang menerima karunia mengalami sakit seumur hidup, agar bisa berdoa bagi keselamatan orang banyak. Sakitnya diterima dengan sukacita walaupun dijauhi orang lain. Dia malah mempunyai banyak waktu untuk berdoa, berdialog dengan Tuhan dengan topik segala macam. Ia malah bisa tekun memohon untuk kedamaian dunia ataupun permohonan lainnya.

Kita bisa memaklumi yang namanya sakit, apalagi sakit yang cukup berat. Segala upaya dicoba dan diusahakan, kalau perlu diburu sampai dimanapun, demi kesembuhan. Dalam segala upaya ini yang mestinya perlu hati-hati, apakah caranya wajar atau malahan meminta bantuan yang tidak semestinya. Anggap saja ekstrimnya meminta bantuan roh jahat agar bisa sembuh. Jangan-jangan jasmaninya kelihatan semakin sehat, namun rohaninya semakin rapuh. Dimana ada Tuhan Yesus, segala macam penyakit maupun roh jahat pergi menjauh. Itulah kabar yang menggembirakan yang memberikan keselamatan. Bagi manusia pada umumnya, keselamatan jasmani didahulukan baru kemudian keselamatan rohani

Yesus menyembuhkan sakit kusta
1:40. Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." 1:41 Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." 1:42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. 1:43 Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: 1:44 "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." 1:45 Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.
Kejadian ini kemungkinan besar berada di tempat sepi, di luar kota. Kalau tidak salah orang-orang yang menderita sakit kusta dikucilkan dari sanak keluarga dan tetangganya. Mereka dipisahkan di tempat tersendiri agar tidak menular kepada orang lain yang masih sehat. Betapa orang kusta tersebut dengan keyakinannya berani mendekat, tidak peduli dengan orang lain yang mengikuti Tuhan Yesus. Biar saja mereka menggerutu dan mengomel, yang penting harus bertemu dengan Sang Mahatabib dan memohon.

Orang kusta tersebut merendahkan dirinya dan berlutut di hadapan Tuhan Yesus. Dia memohon bantuan namun cara bicaranya begitu merendah yang tidak memaksa, “Kalau Engkau mau.” Dia begitu percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Sang Mahapenyembuh. Dan kenyataannya Tuhan Yesus begitu berbelas kasih kepada semua orang yang mengharapkan bantuan-Nya, “Aku mau.” Tanpa rasa sungkan dan jijik Dia mau menjamah orang kusta tersebut.

Pada dasarnya Tuhan Yesus tidak mau menyombongkan diri bahkan lebih senang dengan kerendahan hati. Dia tidak mau berpromosi , karena dibalik promosi pasti ada pamrih tertentu yang umumnya menguntungkan diri. Tuhan Yesus berkarya menyembuhkan hanya berdasar belas kasih tanpa embel-embel apapun, apalagi menarik keuntungan.

Dia melarang orang tersebut untuk bercerita, tetapi hanya disuruh melakukan pekerjaan ritual yang diperintahkan Musa. Tuhan Yesuspun tidak menolak tradisi baik yang berlaku pada saat itu. Ungkapan puji syukur kepada Allah seseuai dengan ketentuan yang berlaku, hendaklah dilaksanakan agar semua orang mengetahui bahwa ia telah bebas dari penyakit kusta.

Dampak dari cerita getok tular dan kesaksian, maka akan banyak orang yang mendambakan kesembuhan mencari dimanapun Dia berada. Tuhan Yesus tidak bisa bersembunyi walaupun Dia tinggal di luar kota, di tempat yang sepi.

Kita bisa merasakan sendiri bagaimana berat meredam keinginan untuk tidak bercerita tentang pengalaman disembuhkan dengan penuh mukjizat. Pengalaman indah penuh sukacita rasanya perlu diceritakan kepada orang banyak. Biarlah mereka yang mendengar bisa ikut merasakan kegembiraan tersebut. Biarlah orang lain yang juga sedang menderita dapat ikut disembuhkan oleh Tuhan Yesus.

Mungkin sekali bahwa zaman sekarang ini kita diajar untuk menjadi saksi Kristus. Kesaksian mengalami disentuh Tuhan perlu disampaikan kepada siapapun. Menyampaikan kesaksian bukanlah menyombongkan diri, namun berbagi pengalaman bagaimana Tuhan telah menolong dan menyembuhkan kita. Kelihatannya orang Katolik lebih terbiasa dengan doa-doa pakem dalam sembahyangan, dari pada berbagi pengalaman rohani yang sering disebut sebagai kesaksian. Mungkin hanya kelompok Karismatik dan sejenisnya yang sering melakukan kesaksian.

Mungkin pada intinya di dalam suatu kesaksian adalah hanya ingin membagi pengalaman bahwa Allah itu maha baik. Dia penuh belas kasihan kepada semua orang yang mengharapkan sentuhan-Nya. Sentuhan-Nya akan bekerja apabila kita juga mau bereaksi dengan membuka diri dan menerima-Nya. Jangan-jangan sebenarnya Tuhan selalu menyentuh kita, namun kitalah yang tidak peka sehingga tidak merasakan sapaan-Nya. Atau malahan kita yang tidak peduli dan hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar